Langit sore yang berpangkuan dengan
iringan awan, hujan yang tak lagi memeluk deras bunga keindahan, malam yang
perlahan terbit menggugurkan senja di hadapanmu, kita yang berjumpa hanya dalam
kehangatan mimpiku. Inilah titik pemberhentianku.
Seperti dua aliran sungai kecil
yang berjalan-menjalar saling menelusuri perjumpaan pada muara lautan.
Kira-kira apa rasanya yang pada perjumpaannya seringkali menjarangkan gelombang
rindu dan kita menikmatinya? Kira-kira apa artinya yang pada perjumpaannya kita
dapat saling mengarungi birunya lautan keikhlasan menerima di kedalaman hati
yang paling dalam? Lalu kira-kira untuk apa perjumpaan ini bila pada akhirnya
diantara kita terbentang riak raksasa yang sanggup mengombang-ambing perasaan
hingga mendamparnya di pulau kehilangan tak bertuan?
Dalam diam, hati ini berceloteh
pada dirimu yang tak ada.
Dengan kesendirian, kabut senyum ragamu masih tetap mendiami menemani.
Di saat takut, aku masih saja berani hembuskan nafas cinta padamu.
Dan luka, walau mempesona takkan menukar laku rasa yang masih ada.
Dengan kesendirian, kabut senyum ragamu masih tetap mendiami menemani.
Di saat takut, aku masih saja berani hembuskan nafas cinta padamu.
Dan luka, walau mempesona takkan menukar laku rasa yang masih ada.
Hai rindu, begitu sapaan orang kepadamu kan? kau datang lagi untuk kesekian kalinya
ya? rasanya sudah terlalu sering kita berjumpa.
Kau siapa? Katamu
bersama raut wajah yang mengisyaratkan kebingungan.
Aku pun mulai bingung, kebingungan yang bertingkat. Bagaimana bisa kau tak mengenaliku
sedang aku merasa mengenalmu hingga hari-hari kita begitu akrab? Apa yang
membuatmu lupa di perjumpaan kita pada hari dimana hanya ada dunia yang ku rasa
pilu?
…
Hei rindu, kuberitahu padamu. Kau yang lebih dulu datang
mengendap-endap kepadaku lalu kubiarkan kau menyelinap tanpa
pernah menduga bahwa kau akan lama menetap hingga basah rindu ini benar-benar
mengucap. Aku mengingatnya, kita berjumpa hanya dalam mimpiku.
Lantas masihkah kita bagai dua
aliran sungai kecil yang berjalan-menjalar saling menelusuri perjumpaan pada
muara lautan? Kukira tidak. Aku dan rangkaian tubuhku kini hanya bisa merindu
bagai teratai
tandus yang setia dalam penungguan sentuhan aliran sungai cintamu di tepian
pelukan sepi. Bahwa setiap perjumpaan itu tidak melulu
tentang saling mencari dan saling menemukan kan? Bagaimana jika kamu saja sendiri
mencari sedangkan aku menunggu untuk ditemukan?
Aku selalu percaya jika memimpikan
masa depan kita hanya tinggal mengusahakan sabar menunggu, namun jika
memimpikan masa lalu kita hanya tinggal mempercayainya bahwa penyesalan atau
kebahagiaan itu ada. Coba perhatikan ini baik-baik, bahwa menunggu itu lelah,
penyesalan dan kepedihan itu lelah, rindu yang telah lama menggerutu pada
individu yang lama tak bertemu itu lelah, maka meminta maaflah pada kelelahan
jika kau tak sanggup lagi menjadi lelah karena menemani kelelahan itu. Bukankah
maaf dan memaafkan itu membahagiakan?
Untukmu yang sedang jatuh cinta.
Aku selalu ingin bertanya pada orang-orang sepertimu.
Kalau saja kamu harus menunggu, masihkah kamu mau menjatuhkan cinta pada yang seperti itu?
Aku selalu ingin bertanya pada orang-orang sepertimu.
Kalau saja kamu harus menunggu, masihkah kamu mau menjatuhkan cinta pada yang seperti itu?




Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
ReplyDeleteSistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
Link Alternatif :
arena-domino.club
arena-domino.vip
100% Memuaskan ^-^