Apa kabar kamu?
Bahkan untuk menanyakan itu saja
kini sudah menjadi tabu bagiku. Aku pun tak tahu tentang cara kerja waktu
mendatangkan dan mengambilmu sewaktu-waktu bahkan saat aku belum benar-benar
percaya kehadiranmu. Aku percaya jika tuhan itu perencana mempertemukan dua
orang saling mencinta namun tidak ditakdirkan bersama pada akhirnya. Bukankah
itu terjadi sudah biasa? Hanya saja ada beberapa manusia yang belum terbiasa,;
termasuk aku. Yang masih tak mau jika harus tidak ada kamu, yang sudah terbiasa
menanti kabar dan semua hal tentang kamu.
Kamu baik-baik saja kan disana?
Beberapa hari khawatirku meningkat tak tau mengapa, tapi di mimpi kamu terlihat
baik-baik saja. Apakah ada yang bertanya tentang kesehatanmu seperti biasanya?
Kamu yang punya banyak selera makan tapi tak selalu baik dalam hal kesehatan
lalu begitu saja terserang flu dan demam. Masih ingat ada aku disetiap kau
demam? Apa sekarang masih ada yang memaksamu menelan obat yang kau benci karena
pahit? Masihkah ada lagi yang mengingatkan untuk menelan kepahitan dan jangan selalu terbuai
dengan kebahagiaan semata.
Karena aku seperti sedang diingatkan begitu
sekarang. Bahwa tentang ada kamu di ingatan, bukan hanya tentang kebahagiaan
dan tak selalu ada denganmu bersampingan. Tapi sekarang ada kamu diingatan
berarti tentang memperbesar kerelaan.
Dulu yang kutahu , ketulusan itu
adalah tetap bertahan dalam situasi dan kondisi yang serba kacau tapi kini
karenamu aku tahu memilih berhenti dan
melepaskanmu dari kerinduanku adalah juga ketulusan.
JAKARTA



0 comments:
Post a Comment