Cinta diam—diam
Aku tidak
tahu sejak kapan ini bermula. Semuanya terjadi begitu saja, mengalir apa
adanya. Setiap pagi aku terbangun, lalu termenung. Di saat itu seraut wajahu
hadir, menerbitkan senyum di bibirku. Dan, ada gelayar yang menderak-derak di
hatiku. Aneh sekaligus menyenangkan. Aku sudah seperti orang gila saja karena
keseringan tersenyum sendiri. Tapi biarlah. Yang penting setiap mengingatmu aku
selalu senang dan bersemangat.
Lalu, pagi-pagi aku selalu menyempatkan menjenguk ke media sosialmu. Facebook, twitter, instagram, dan semua media sosial yang kau miliki. Mengecek apakah ada kabar terbaru tentangmu. Aku cukup membaca dan tahu. Meski terkadang ada desakan untuk memberikan komentar—terlebih kalau status atau kicauanmu tentang sesuatu yang sedih—tapi, keberanian itu tak pernah kudapatkan. Boleh saja kau menganggapku pengecut. Yang bisanya cuma menguntit, menjadi seorang stalker. Tapi, apa boleh buat. Bagiku, mengetahui segala tentangmu tanpa kau ketahui itu sudah jauh dari cukup.
Oh iya, aku juga suka mengoleksi foto-fotomu. Aku mengambilnya dari foto-foto yang kauunggah di media sosial secara diam-diam. Memang tindakanku ini sama saja seperti pencuri. Namun, untuk hal ini aku tak bisa menolak keinginanku. Biarlah aku memiliki dirimu dalam bentuk foto. Memasangnya di dompet dan wallpaper ponselku. Agar aku dengan mudah memandang dirimu di saat diserang rindu.
Oh iya, suatu hari aku pernah berpapasan denganmu di koridor tempat kita menimba ilmu bersama. Dari jauh aku sudah melihatmu, dadaku berdebar tak karuan. Jantungku rasanya ingin meloncat dan meledak saking cepatnya berdetak. Ingin rasanya aku memutar arah, tapi aku tidak ingin tindakanku malah menarik perhatianmu. Akhirnya aku melangkah dengan perasaan tak menentu. Gamang dan berdebar. Lalu, saat kita berpapasan, kau tersenyum. Kau benar-benar tersenyum. Senyum untukku. Dan, jantungku rasanya berhenti berdetak. Saat itu adalah momen terindah bagiku. Cukup sebuah senyum darimu, lalu hari-hariku pun menjadi berwarna.
“Apa kau tahu kebiasaanku mengagumimu dari jauh?” bisikku kala itu.
Tapi tentu saja kau tidak tahu. Karena selama ini aku selalu memandangimu secara sembunyi-sembunyi. Menikmati keberadaanmu secara diam-diam.
Ya, kuakui aku mencintaimu. Cinta yang tumbuh dan bersemi dalam diam. Cinta yang terlalu pengecut, namun begitu indah kurasakan. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan memcintaimu seperti itu. Tapi, biarlah. Karena memandangi dari jauh dan memastikanmu baik-baik saja sudah cukup membuatku bahagia.
Dan, aku tak ingin meminta lebih dari itu.
Biarlah perasaanku padamu, kusimpan rapi dalam peti hatiku. Tanpa seorang pun yang tahu, termasuk kamu.
|Februari bulan
cinta|




wah, ini pngalaman pribadi atau cuma tulisan gan ?
ReplyDeletejangan lupa kunbal ya gan, www.qoidsubki.blogspot.com